PEKANBARU,(Alamrimba.com) – Dunia konservasi diselimuti duka mendalam atas berpulangnya Jovi, seekor gajah binaan senior yang selama lebih dari seperempat abad menjadi benteng pertahanan dalam meredam konflik antara manusia dan satwa liar di Provinsi Riau.
Sosok gajah jantan yang berwibawa ini menghembuskan napas terakhirnya di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, setelah berjuang gigih melawan sakit pada usianya yang menginjak 46 tahun.
Bagi para mahout (pawang) dan petugas lapangan, Jovi bukan sekadar satwa berbobot tonase besar, melainkan sahabat sekaligus ‘diplomat rimba’ sejati. Sejak pertama kali dievakuasi dari Indragiri Hulu dan bergabung dengan PLG Minas pada 18 Februari 1998, ia tumbuh menjadi salah satu gajah binaan paling berpengalaman yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keselamatan warga setempat.
Peran vital Jovi sangat terasa setiap kali gesekan antara warga dan kawanan gajah liar memuncak di lapangan. Baik saat kawanan gajah melintas mendekati permukiman penduduk maupun memasuki area perkebunan, Jovilah yang selalu diterjunkan ke garis depan sebagai gajah penjinak dan penggiring untuk mengendalikan situasi yang tegang.
Keunggulan utama Jovi terletak pada aura ketenangan dan wibawanya yang luar biasa saat berhadapan dengan satwa liar. Melalui komunikasi khas sesama spesies, ia mampu menenangkan serta memimpin kelompok gajah liar yang sedang panik agar mau berputar arah dan kembali ke dalam kawasan hutan secara damai tanpa memerlukan tindakan kekerasan sedikit pun.
Jovi sebagai sosok penengah yang tak tergantikan selama lebih dari dua dekade
“Selama lebih dari dua dekade, Jovi memegang peran vital dalam mitigasi konflik. Kehadirannya selalu menjadi solusi penengah di lapangan,” kenang Plh. Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, Selasa (4/8/2026
Kehadiran sang veteran di area konflik selalu menjadi solusi efektif yang berhasil menyelamatkan banyak nyawa, baik dari pihak masyarakat maupun sesama gajah liar di wilayah Riau.
Karakter pantang menyerah dari gajah legendaris ini tidak hanya terlihat saat menjalankan tugas di tengah hutan, tetapi juga pada masa-masa akhir hidupnya.
“Ketika diserang infeksi berat sejak 1 Juli 2026, Jovi tetap menunjukkan daya juang yang luar biasa untuk terus bertahan hidup di bawah perawatan intensif tim medis dan mahout yang mendampinginya selama 24 jam nonstop,” kata Ujang.
Kendati sempat berupaya keras untuk berdiri dan menghabiskan pakan yang disuapkan perawatnya, kondisi fisik sang penengah konflik tersebut akhirnya kian melemah.
“Komplikasi infeksi serta kelumpuhan otot berat (myopathy) pada tubuh rentanya memaksa Jovi menyudahi perjuangannya pada Senin (3/8/2026) malam,” jelasnya.
Kepergian Jovi menyisakan duka serta ruang kosong yang teramat besar bagi seluruh keluarga besar PLG Minas dan dunia konservasi Indonesia.
Pihak BBKSDA Riau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim medis dan para pawang yang telah setia mendampingi sang raksasa lembut ini, seraya memastikan bahwa rekam jejak, ketenangan, dan jasa kepahlawanan Jovi akan terus hidup dalam sejarah bumi Riau.









