BBKSDA Riau dan RAPP Pantau Kesehatan Gajah Berusia 60 Tahun di Estate Ukui

- Penulis

Senin, 6 Juli 2026 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PEKANBARU,(AlamRimba.com)– Di balik rimbunnya hutan tanaman industri Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, hidup seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) betina yang istimewa. Di usianya yang diperkirakan telah menginjak 60 tahun, usia yang sangat senja untuk ukuran gajah liar ia memilih jalan hidup sebagai petualang soliter.

Baru-baru ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kembali turun ke lapangan demi memastikan sang “nenek” gajah tetap dalam kondisi terbaiknya.

Langkah medis ini bukan yang pertama bagi sang gajah. Kilas balik ke bulan Juli 2025 lalu, kondisinya sempat sangat kritis, tubuhnya kurus kering, mengalami dehidrasi parah, gangguan pencernaan akut, hingga mengalami prolapsus ani (pencernaan keluar dari anus).

Setahun berlalu pasca-perawatan intensif tersebut, keajaiban perlahan nyata. Tim medis yang kembali mengunjunginya dikejutkan oleh ketangguhan fisik satwa raksasa dilindungi ini.

Saat tim medis BBKSDA Riau yang dipimpin oleh drh. Rini Deswita mencoba mendekat, gajah betina ini menunjukkan taringnya sebagai penguasa rimba. Ia terpantau sangat lincah, agresif, bahkan cenderung defensif dan ingin menyerang manusia yang mendekat.

Baca Juga:  Kuasai Lahan Yang Statusnya Kawasan Hutan “HN” Resmi Akan Digugat LSM Bidang Kehutanan ke PN Pelalawan

Saking kuat stamina dan semangatnya, sang gajah bahkan tetap kokoh berdiri dan menolak roboh sepanjang proses pembiusan ringan dilakukan oleh tim gabungan.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengungkapkan rasa syukurnya atas transformasi luar biasa ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh, berat badan sang gajah kini diperkirakan telah melesat mencapai 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 cm dan tinggi badan 230 cm.

“Skor kondisi tubuhnya kini masuk dalam kategori sedang yang proporsional, serta bersih tanpa adanya luka fisik atau cedera baru,” ujar Supartono Senin (6/7/2026).

Kendati fisiknya membaik, tim medis tidak menampik adanya tantangan biologis alami yang harus dihadapi sang gajah akibat faktor usia. Hasil pemeriksaan mendeteksi adanya anismus, yaitu melemahnya fungsi otot anus.

Kondisi ini membuat feses kerap menggantung dan memicu aroma tidak sedap dari tubuhnya. Aroma kurang sedap inilah yang belakangan sempat memicu kekhawatiran warga sekitar kebun yang menyangka sang gajah sedang sakit parah.

Tantangan lainnya terletak pada fungsi kunyah. Gigi-gigi gajah tua ini telah mengalami keausan parah (aus), membuat proses pencernaan pakan berserat tinggi tidak lagi sempurna.

Baca Juga:  Pemprov Riau Beri Deadline 3 Bulan Kosongkan Sawit di Kawasan TNTN

Akibatnya, ia sering menghasilkan feses yang kasar dan sesekali mengalami diare. Untuk mengatasinya, gajah pintar ini secara alami beradaptasi dengan mencari sumber pakan yang lebih empuk dan lunak di sekitar kebun masyarakat, seperti ubi kayu, batang pisang, rumput segar, hingga tanaman sawit muda.

“Guna menyokong sisa energinya di usia tua, tim medis langsung memberikan terapi suportif berupa obat-obatan penguat dan cairan infus untuk menjaga kestabilan fisiologisnya,” jelasnya.

Supartono menegaskan bahwa penurunan fungsi organ adalah proses alami yang wajar bagi makhluk hidup yang menua. Selama nafsu makannya tetap tinggi, kondisi tubuhnya terjaga, dan terhindar dari stres, “nenek” gajah ini diyakini akan terus mampu bertahan hidup secara alami di habitatnya.

Aksi penyelamatan dan pengecekan berkala ini menjadi bukti nyata komitmen sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam menjaga rantai konservasi berbasis kesejahteraan satwa.

Di akhir kesempatan, Kepala BBKSDA Riau mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga kelestarian habitat gajah, menolak segala bentuk perburuan liar, dan memanfaatkan layanan call center resmi jika menemukan satwa yang membutuhkan pertolongan medis darurat di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel alamrimba.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenang Gajah Jovi, 2 Dekade Menjadi Diplomat Rimba Penjaga Perdamaian di Riau
Terpantau Camera Trap, BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak dan Drone Thermal Evakuasi Harimau di Inhil
Mahasiswa dan Pelajar Jepang Belajar Konservasi Hutan Tropis di Riau
APARI Gelar Aksi Tanam Mangrove di Ampiang Parak Pesisir Selatan
Polda Riau Bongkar Sawmill Ilegal di Kampar, Ratusan Kayu Disita dan Satu Tersangka Diamankan
Menguat Dugaan Illegal Logging di Pelalawan, Memantik Perhatian Tokoh Pemerhati Lingkungan Hidup dan Hutan
Konflik Maut Harimau Sumatera di Pelalawan, BBKSDA Riau Evaluasi Ketat Prosedur Keselamatan Pekerja.
MAHASISWA MENGGUGAT! IPMTR Desak Usut Tuntas Dugaan Malapraktik Limbah PT EMP di Senama Nenek
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:13 WIB

Mengenang Gajah Jovi, 2 Dekade Menjadi Diplomat Rimba Penjaga Perdamaian di Riau

Senin, 3 Agustus 2026 - 01:02 WIB

Terpantau Camera Trap, BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak dan Drone Thermal Evakuasi Harimau di Inhil

Jumat, 31 Juli 2026 - 03:40 WIB

Mahasiswa dan Pelajar Jepang Belajar Konservasi Hutan Tropis di Riau

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:46 WIB

APARI Gelar Aksi Tanam Mangrove di Ampiang Parak Pesisir Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 - 03:58 WIB

Polda Riau Bongkar Sawmill Ilegal di Kampar, Ratusan Kayu Disita dan Satu Tersangka Diamankan

Berita Terbaru