KalaMusika Konser Kata Kata 2025, Gubri Abdul Wahid Bacakan Puisi “Hilang Rimba Hilang Bahasa”

- Penulis

Sabtu, 19 Juli 2025 - 22:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

i

Oplus_0

PEKANBARU (Alamrimba.com) – Gubernur Riau (Gubri) Abdul Wahid turut memeriahkan KalaMusika Konser Kata Kata 2025 dengan membacakan puisi yang berjudul “Hilang Rimba Hilang Bahasa”.

Gubri Abdul Wahid mengakui belum pernah membaca puisi, namun pada malam ini dia menampilkan puisi yang apik dan upaya untuk melestarikan hutan.

“Puisi ini ekspresi akal dan budi,” katanya sebelum membacakan puisi di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin Bandar Serai Purnama MTQ Pekanbaru, Sabtu (19/7/25).

Adapun bait puisi yang dibacakan Gubernur Riau Abdul Wahid tersebut, yakni:

Hilang Rimba Hilang Bahasa

Untuk bunda semesta yang diamnya lebih dalam dari laut dan sabarnya lebih tua dari langit 

Aku datang tidak membawa kata-kata baru

Sebab kata-kata telah lama pergi pada retak daun 

Pada gemetar pepohonan, pada peluh tanah yang menyusu angin 

Sebelum kami menyebutnya puisi

Aku hanya menyulam kembali jejak yang pernah basah oleh pantun 

Suara yang pernah halus dalam dzikir angin,

Bisikan Rimba nyanyian sungai 

Desah tanah yang Luruh dari mata langit ke ubun-ubun manusia

Dulu, kami mengenal dunia bukan dari layar melainkan dari embun di pucuk lalang

Dari gemercik sungai yang hafal nama-nama

Dari mentari yang menyuruk di bilik daun, seperti ibu pulang diam-diam membawa beras

Kami tahu arah bukan dari kompas 

Tapi dari arah bayang pohon condong waktu Ashar 

Kami tak hafal definisi, tapi kami paham arti bahwa satu jejak kaki di lumpur adalah silsilah 

Adalah wasiat, adalah firasat yang tertulis namun hidup di dada 

Lalu waktu mengiring kami jauh, bukan bumi yang berpaling 

Tapi kami yang berjalan terlalu cepat, hingga lupa diam kami bukan jalan 

Tapi tidak sempat membuka jalan pulang di dalam diri sendiri

Satu demi satu, suara menjadi data 

Makna menjadi izin 

Rimba menjadi gempar dan bahasa terpuyung luruh dari dahan ingat ke jurang lupa 

Bahasa lahir dari akar yang tumbuh bersama ketupat dan anyaman 

Dari pantang yang dijaga bukan karena takut, tapi karena cinta yang berlapis hormat 

Kini terombang-ambing, terasing dari lidah, terkikis dari pasar, terhapus dari suara-suara, terdiam dada yang sunyi 

Kini tinggal adalah nyanyian tanpa nada, pantun tanpa sampiran 

Sungai yang diam seperti luka lama dan burung-burung yang tak sempat berpamitan

Kami sebut ini kemajuan

Tapi bagaimana bisa langkah maju jika yang ditinggalkan adalah ruh dan jiwa

Kami sebut ini pembangunan 

Tapi yang kami bangun ternyata hanya tembok yang memantulkan gema getiran kami sendiri

Hari ini aku menulis bukan sebagai penguasa kata

Aku menulis sebagai anak dari tanah yang tak mengenal suara 

Dan aku bertanya dengan gemetar, jika Rimba lenyap di mana lagi bahasa akan bersaung

Jika bahasa hilang dengan apalagi kami mengenal ibu kami sendiri 

Sebab bahasa bukan sekedar ucapan

Ia adalah pohon yang diam menulis kata menulis doa 

Adalah sungai yang setia pada arah 

Adalah semut yang berjalan lurus karena tahu arah asalnya 

Kini kami datang bukan hendak menyalahkan, bukan pula meminta kebenaran 

Kami datang untuk menunduk menyentuh tanah sekali lagi 

Dengan jari yang pelan, dengan dada yang lapang, dengan hati yang siap menyesal 

Kami ingin menanam kembali, bukan hanya hutan, tapi pendengaran 

Kami ingin menanam kembali malu 

Kami ingin menyemai kembali bukan hanya kata, tapi makna 

Kami ingin mendengarkan kembali bunyi hujan seperti syair, angin seperti nasehat dan malam seperti dzikir pujangga di bawah pohon tua 

Dan bila nanti angin kembali melafal pantun, sungai kembali menyanyikan nama-nama dan burung-burung kembali pulang tanpa takut

Maka dunia tahu bahwa bahasa belum mati dan rimba belum sepenuhnya ditinggalkan

Aku tak berjanji akan kembalikan segalanya, tapi aku berjanji untuk tidak membiarkan kehilangan ini menjadi warisan terakhir bagi anak-anak kami

Sebab Rimba adalah ibu, bahasa adalah tubuhnya dan Melayu adalah ingatan yang hanya hidup jika kita cukup hening untuk mendengarkan kembali 

Diketahui dalam KalaMusika 2025 menampilkan Penyair Provinsi Riau dan Kepulauan Riau berkolaborasi, acara ini dilaksanakan bersempena dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 Provinsi Riau dan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Baca Juga:  Niat Buka Kebun, Kepala Desa di Aceh Tengah Malah Jadi Tersangka Perusak Hutan Lindung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel alamrimba.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hutan Lindung Tanjung Kasam Dijarah, Akar Bhumi Indonesia Desak Kementerian Kehutanan Bertindak Tegas
Serahkan Sertifikat Tanah 2025, Bupati Pelalawan Ingatkan Warga Tak Sembarang Jual Lahan
Sikat Habis! TNBS Musnahkan 98,8 Hektare Sawit Ilegal di Jantung Ekosistem Gambut
Kemenhut Perluas Kanal Aduan dan Perketat Pengawasan Peredaran Kayu di Sumatera
LHKP Muhammadiyah: Bencana Sumatra Bukan ‘Musibah Alam’, Tapi ‘Kejahatan Kebijakan’ Akibat Izin Eksploitasi Ugal-Ugalan
Hutan Riau Terancam, APARI Soroti Lemahnya Penegakan Hukum di Kawasan Hutan Suaka
Diduga Jadi Provokator Saat Sidang Lapangan, Seorang Ibu Rumah Tangga di Desa Sungai Buluh Dilaporkan ke Polres Pelalawan
GAKKUM KEHUTANAN TANGKAP KETUA KELOMPOK TANI JUAL 600 HEKTAR LAHAN KAWASAN TAMAN NASIONAL BERBAK SEMBILANG
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Januari 2026 - 00:33 WIB

Hutan Lindung Tanjung Kasam Dijarah, Akar Bhumi Indonesia Desak Kementerian Kehutanan Bertindak Tegas

Selasa, 6 Januari 2026 - 23:17 WIB

Serahkan Sertifikat Tanah 2025, Bupati Pelalawan Ingatkan Warga Tak Sembarang Jual Lahan

Minggu, 14 Desember 2025 - 00:35 WIB

Sikat Habis! TNBS Musnahkan 98,8 Hektare Sawit Ilegal di Jantung Ekosistem Gambut

Sabtu, 13 Desember 2025 - 16:12 WIB

Kemenhut Perluas Kanal Aduan dan Perketat Pengawasan Peredaran Kayu di Sumatera

Minggu, 7 Desember 2025 - 23:23 WIB

LHKP Muhammadiyah: Bencana Sumatra Bukan ‘Musibah Alam’, Tapi ‘Kejahatan Kebijakan’ Akibat Izin Eksploitasi Ugal-Ugalan

Berita Terbaru